Kamis, 05 Juni 2008

Journal Psikologi Eksperimen 4

I. TEMA
“Pengaruh cahaya lampu berwarna terhadap kecepatan reaksi pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Disusun Oleh :
Hany Ammaria ( 06710016 )
Diah Putri M ( 06710017 )
Amul Husni F ( 06710021 )
Gria Romadhaniati ( 06710022 )
Windry Wibowo A ( 06710023 )
Purna Listianto ( 06710026 )
Rini Fitriani ( 06710027 )
Ferdiyansyah ( 06710028 )
Wira Arsyi H ( 06710029 )
Oktafiana Fajri ( 06710030 )

Jogjakarta, 8 Mei 2008
PRODI PSIKOLOGIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA


II. DASAR TEORI
A. Kecepatan Reaksi
a. Kecepatan
Kecepatan adalah perubahan per unit waktu dalam sebarang fungsi (J.P Chaplin, Terjemahan Kartini Kartono.2005). Kecepatan (simbol: v) atau velositas adalah pengukuran vektor dari besar dan arah gerakan. Nilai absolut skalar(magnitudo) dari kecepatan disebut kelajuan (bahasa Inggris: speed). Kecepatan dinyatakan dengan jarak yang ditempuh per satuan waktu
Perubahan kecepatan tiap satuan waktu dikenal sebagai percepatan atau akselerasi.
Kecepatan itu pengukuran vektor dari besar dan arah gerakan. Nilai absolut skalar(magnitudo) dari kecepatan disebut kelajuan. Kecepatan dinyatakan dengan jarak yang ditempuh per satuan waktu.
Rumus kecepatan yang paling sederhana adalah "Kecepatan = Perpindahan/Waktu" atau v = s/t. Dengan demikian, satuan SI kecepatan adalah m/s dan merupakan sebuah besaran turunan. Beberapa satuan kecepatan lainnya adalah
* km/jam atau km/h
* mil/jam atau mph
* knot
* Mach yang diambil dari kecepatan suara. Mach 1 adalah kecepatan suara.

Velocity n Speed di liat dari Dictionary punya arti yang sama.
Satuan International(SI) Velocity=kecepata
percepatan = a
perlambatan= -a
b. Reaksi
Reaksi adalah satu respon terhadap suatu rangsang. merupakan sebarang proses otot atau kelenjar yang dimunculkan oleh satu perangsang (J.P Chaplin, Terjemahan Kartini Kartono.2005). Dalam merespon sesuatu, indera penglihatan memerlukan suatu stimulus awal. Syarat utama terjadinya hubungan stimulus respon bukan kedekatan, tetapi adanya saling sesuai antara stimulus & respon. Akibat suatu perbuatan dapat menular (Spread of Effect) baik pada bidang lain maupun pada `individu lain. Hukum akibat(law of effect), yaitu hubungan stimulus respon cenderung diperkuat bila akibatnya menyenangkan dan cenderung diperlemah jika akibatnya tidak memuaskan. Hukum ini menunjuk pada makin kuat atau makin lemahnya koneksi sebagai hasil perbuatan. Suatu perbuatan yang disertai akibat menyenangkan cenderung dipertahankan dan lain kali akan diulangi. Sebaliknya, suatu perbuatan yang diikuti akibat tidak menyenangkan cenderung dihentikan dan tidak akan diulangi.
c. Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi adalah jumlah reaksi yang berlangsung per unit waktu. kecepatan/ angka reaksi ini merupakan satu ukutan belajar yang penting artinya dalam pengkondisian operan.
B. Cahaya Lampu berwarna
a. Cahaya
Cahaya adalah radiasi elektromagnetik (energi yang dihasilkan oleh osilasi materi bermuatan listrik) dan masuk dalam rangkaian sinar kosmik, sinar-x, sinar ultraviolet dan inframerah, dan gelombang radio dan televisi. Energi elektromagnetik berjalan dalam gelombang, dengan panjang gelombang (jarak 1 puncak gelombang ke puncak gelombang selanjutnya) sangat bervariasi mulai dari sinar kosmik yang terpendek (4 per triliun sentimeter) sampai gelombang radio yang terpanjang (beberapa mil). Mata kita hanya sensitif pada sebagian kecil kesinambungan tersebut, panjang gelombang kira-kira 400-700 nanometer. Karena nanometer adalah satu per milyar meter, energi yang terlihat hanya mencakup bagian yang sangat kecil dari gelombang elektromagnetik. Radiasi di dalam rentang yang terlihat ini dinamakan cahaya.
Dalam kamus Istilah Fisika, Liek Wilardjo ; cahaya adalah radiasi elektromagnetik yang mampu menyebabkan rangsangan kasat mata (visibilitas).
Teori tentang cahaya dari beberapa ilmuwan yaitu :
Ilmuwan Abu Ali Hasan Ibn Al-Haitham (965–sekitar 1040), dikenal juga sebagai Alhazen, mengembangkan teori yang menjelaskan penglihatan, menggunakan geometri dan anatomi. Teori itu menyatakan bahwa setiap titik pada daerah yang tersinari cahaya, mengeluarkan sinar cahaya ke segala arah, namun hanya satu sinar dari setiap titik yang masuk ke mata secara tegak lurus yang dapat dilihat. Cahaya lain yang mengenai mata tidak secara tegak lurus tidak dapat dilihat. Dia menggunakan kamera lubang jarum sebagai contoh, yang menampilkan sebuah citra terbalik. Alhazen menganggap bahwa sinar cahaya adalah kumpulan partikel kecil yang bergerak pada kecepatan tertentu. Dia juga mengembangkan teori Ptolemy tentang refraksi cahaya namun usaha Alhazen tidak dikenal di Eropa sampai pada akhir abad 16. .
Teori Partikel -Isaac Newton menyatakan dalam Hypothesis of Light pada 1675 bahwa cahaya terdiri dari partikel halus (corpuscles) yang memancar ke semua arah dari sumbernya. Teori ini dapat digunakan untuk menerangkan pantulan cahaya, tetapi hanya dapat menerangkan pembiasan dengan menganggap cahaya menjadi lebih cepat ketika memasuki medium yang padat tumpat karena daya tarik gravitasi lebih kuat.
Teori Dualitas Partikel-Gelombang. Teori ini menggabungkan tiga teori yang sebelumnya, dan menyatakan bahwa cahaya adalah partikel dan gelombang. Ini adalah teori modern yang menjelaskan sifat-sifat cahaya, dan bahkan sifat-sifat partikel secara umum. Teori ini pertama kali dijelaskan oleh Albert Einstein pada awal abad 20, berdasarkan dari karya tulisnya tentang efek fotolistrik, dan hasil penelitian Planck. Einstein menunjukkan bahwa energi sebuah foton sebanding dengan frekuensinya. Lebih umum lagi, teori tersebut menjelaskan bahwa semua benda mempunyai sifat partikel dan gelombang, dan berbagai macam eksperimen dapat di lakukan untuk membuktikannya. Sifat partikel dapat lebih mudah dilihat apabila sebuah objek mempunyai massa yang besar.
Pada pada tahun 1924 eksperimen oleh Louis de Broglie menunjukan elektron juga mempunyai sifat dualitas partikel- gelombang. Einstein mendapatkan penghargaan Nobel pada tahun 1921 atas karyanya tentang dualitas partikel-gelombang pada foton, dan de Broglie mengikuti jejaknya pada tahun 1929 untuk partikel-partikel yang lain.
Cahaya tampak adalah bagian spektrum yang mempunyai panjang gelombang antara lebih kurang 400 nanometer (nm) dan 800 nm (dalam udara).
Rumus kecepatan-cahaya
v = ëf,
Dimana ë adalah panjang gelombang, f adalah frekuensi, v adalah kecepatan cahaya. Kalau cahaya bergerak di dalam vakum, jadi v = c, jadi
c = ëf,
di mana c adalah laju cahaya. Kita boleh menerangkan v sebagai
di mana n adalah konstan (indeks biasan) yang mana adalah sifat material yang dilalui oleh cahaya.
Menurut teori kuantum, cahaya menyebar dari sumbernya sebagai sederetan konsentrasi energi yang terlokalisasi, masing-masing cukup kecil, sehingga dapat diserap oleh sebuah elektron. Seseorang bisa melihat dengan terang disekelilingnya dengan melalui reseptor mata. Reseptor yansebenarnya terletak pada retina. Dimana retina merupakan lapisan paling dalam pada mata (indera penglihatan). Pada retina ditemukan sel-sel saraf penglihatan yang peka terhadap cahaya. Di dalam retina didapati adanya basiles (rods) dan cones, yang masing-masing mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Basiles atau rods berfungsi untuk membedakan gelap terangnya yang dilihat, sedangkan cones berfungsi membedakan warna yang dilihatnya. Bila seseorang melihat sesuatu objek maka stimulus yang mengenai mata bukanlah objeknya secara langsung, tetapi sinar yang dipantulkan oleh objek tersebut yang bekerja sebagai stimulus yang mengenai mata. Sinar yang mengenai mata mempunyai sifat gelombang, ada yang bergelombang pendek dan ada juga yang bergelombang panjang. Disamping itu, sinar juga mempunyai sifat kekuatan atau intensitas gelombang yang bermacam-macam. Perbedaan dalam soal intensitas akan membawa perbedaan dalam soal terang tidaknya sinar yang diterima. Perbedaan panjang pendeknya gelombang akan membawa perbedaan dalam warna yang dilihat.
Bila seseorang melihat suatu benda, maka dari benda itu dapat dilihat bentuknya, jaraknya dan warnanya. Jika kita ingin melihat detail suatu objek, kita biasanya menggerakkan mata sehingga bayangan itu terproyeksi di tengah retina, ke daerah yang dinamakan fovea. Di fovea, reseptor sangat banyak jumlahnya dan tersusun rapat. Dengan demikian tidak mengejutkan bahwa fovea merupakan daerah di mata yang paling baik untuk melihat detail. Mengingat bahwa cahaya yang dipantulkan dari suatu objek kontak dengan sel reseptor, dan bagaimana reseptor menstransduksi cahaya menjadi impuls listrik. Sel batang dan sel kerucut mengandung zat kimia yang dinamakan fotoreseptor, yang mengabsorpsi cahaya. Absorpsi cahaya adalah fotoreseptor memulai proses yang menghasilkan impuls saraf. Jika langkah transduksi ini selesai, impuls listrik harus menuju ke otak melalui neuron penghubung.
b. Lampu
Lampu adalah suatu alat yang dapat memproduksi cahaya.. Kata lampu dapat juga berarti bola lampu. Lampu terdiri dari bermacam-macam diantaranya lampu api ; (lampu minyak, lampu kerosene, lampu davy,limelight, lampu gas) dan lampu listrik ; (lampu pijar, lampu neon, lampu arc) (www.wikipedia.org). Selain itu ada pula lampu bunga api raksa tekanan rendah. Lampu ini merupakan lampu yang mengandung hanya satu isotop raksa, dapat diperoleh dari United States Nasional Bureau of Standards. Pada lampu ini, jika arus yang melalui lampu ini diperkuat, maka suhu akan naik sekali dan tekanan uap raksa akan bertambah sampai 50-100 atm. Lampu seperti ini memerlukan pendinginan dengan air, dan bila dioperasikan merupakan sumber cahaya putih yang kuat sekali. Selain itu terdapat pula lampu natrium. Lampu ini kadang-kadang dipakai untuk penerangan jalan karena hemat dan membuat penglihatan sangat jelas berhubung tidak terjadinya khromatik mata, seperti akan terjadi bila untuk penerangan dipakai cahaya yang hamper monokhromatik seluruhnya. Kemudian seiring perkembangan tekhnik penerangan yang sangat penting adalah penggunaan lampu fluoresen. Lampu ini berupa tabung gelas yang berisi argon dan setetes kecil air raksa. Lampu ini dapat dibuat memberikan cahaya warna yang diinginkan, bergantung pada sifat fosfornya. (Sears dan Marx W. Zemansky, 1987).
c. Warna
Warna adalah spektrum tertentu yang terdapat di dalam suatu cahaya sempurna (berwarna putih). Identitas suatu warna ditentukan panjang gelombang cahaya tersebut. Sebagai contoh warna biru memiliki panjang gelombang 460 nanometer.
Panjang gelombang warna yang masih bisa ditangkap mata manusia berkisar antara 380-780 nanometer.
Dalam peralatan optis, warna bisa pula berarti interpretasi otak terhadap campuran tiga warna primer cahaya: merah, hijau, biru yang digabungkan dalam komposisi tertentu. Misalnya pencampuran 100% merah, 0% hijau, dan 100% biru akan menghasilkan interpretasi warna magenta.
Dalam seni rupa, warna bisa berarti pantulan tertentu dari cahaya yang dipengaruhi oleh pigmen yang terdapat di permukaan benda. Misalnya pencampuran pigmen magenta dan cyan dengan proporsi tepat dan disinari cahaya putih sempurna akan menghasilkan sensasi mirip warna merah.
Setiap warna mampu memberikan kesan dan identitas tertentu sesuai kondisi sosial pengamatnya. Misalnya warna putih akan memberi kesan suci dan dingin di daerah Barat karena berasosiasi dengan salju. Sementara di kebanyakan negara Timur warna putih memberi kesan kematian dan sangat menakutkan karena berasosiasi dengan kain kafan (meskipun secara teoritis sebenarnya putih bukanlah warna).
Di dalam ilmu warna, hitam dianggap sebagai ketidakhadiran seluruh jenis gelombang warna. Sementara putih dianggap sebagai representasi kehadiran seluruh gelombang warna dengan proporsi seimbang. Secara ilmiah, keduanya bukanlah warna, meskipun bisa dihadirkan dalam bentuk pigmen.
Pengelompokan warna
Warna netral, adalah warna-warna yang tidak lagi memiliki kemurnian warna atau dengan kata lain bukan merupakan warna primer maupun sekunder. Warna ini merupakan campuran ketiga komponen warna sekaligus, tetapi tidak dalam komposisi tepat sama.
Warna kontras, adalah warna yang berkesan berlawanan satu dengan lainnya. Warna kontras bisa didapatkan dari warna yang berseberangan (memotong titik tengah segitiga) terdiri atas warna primer dan warna sekunder. Tetapi tidak menutup kemungkinan pula membentuk kontras warna dengan menolah nilai ataupun kemurnian warna. Contoh warna kontras adalah merah dengan hijau, kuning dengan ungu dan biru dengan jingga.
Warna panas, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari merah hingga kuning. Warna ini menjadi simbol, riang, semangat, marah dsb. Warna panas mengesankan jarak yang dekat.
Warna dingin, adalah kelompok warna dalam rentang setengah lingkaran di dalam lingkaran warna mulai dari hijau hingga ungu. Warna ini menjadi simbol kelembutan, sejuk, nyaman dsb. Warna sejuk mengesankan jarak yang jauh.
Warna tersebut berasosiasi dengan dimensi fisik dari panjang gelombang sedemikian rupa, sehingga termungkinkan upaya menetapkan panjang dari gelombang yang menimbulkan pengalaman psikologis dari warna. Gelombang-gelombang pada ujung- panjang sebuah spektrumdi dalam daerah 700 nm, menimbulkan warna merah.Pada ujung- pendek, kurang lebih 400 nm, warna yang muncul adalah lembayung atau violet. Biru terletak kurang lebih pada 470 nm, sedangkan warna kuning pada 580 nm.
d. Lampu berwarna
Suatu alat yang dapat memproduksi cahaya, dengan disertai efek warna yang dimiliki.
Dalam eksperimen ini lampu yang di gunakan adalah lampu yang mempunyai warna merah, kuning, hijau, ungu, biru, jingga, dan nila

III. HIPOTESIS
Ada perbedaan antara kelompok control yang tidak mendapatkan perlakuan dengan kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan berupa cahaya lampu berwarna terhadap kecepatan reaksi dengan eksperimen Reaction Time pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

IV. VARIABEL PENELITIAN
A. Independen Variabel : Cahaya Lampu Berwarna
Cahaya merupakan sejenis energi berbentuk gelombang elektro-magnetik yang bisa dilihat dengan indera penglihatan. Berdasarkan Teori Partikel -Isaac Newton menyatakan dalam Hypothesis of Light pada 1675 bahwa cahaya terdiri dari partikel halus (corpuscles) yang memancar ke semua arah dari sumbernya. Sedangkan lampu berwarna adalah suatu alat yang dapat memproduksi cahaya berwarna. Sehingga cahaya lampu berwarna merupakan sejenis energi berbentuk elektromagnetik pada suatu alat yang dapat memproduksi cahaya berwarna yang dapat dilihat dengan indera penglihatan.

B. Dependen Variabel : Kecepatan reaksi
Kecepatan reaksi adalah jumlah stimulus yang di indera yang berlangsung per unit waktu. kecepatan/ angka reaksi ini merupakan satu ukutan belajar yang penting artinya dalam pengkondisian operan. Stimulus yang diindera itu oleh individu di organisasikan, kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu.

C. Definisi Oprasional :
1. Kecepatan Reaksi :
Kecepatan adalah perubahan per unit waktu dalam sebarang fungsi. Jadi kecepatan reaksi adalah jumlah stimulus yang di indera yang berlangsung per unit waktu. kecepatan/ angka reaksi ini merupakan satu ukutan belajar yang penting artinya dalam pengkondisian operan. Stimulus yang diindera itu oleh individu di organisasikan, kemudian diinterpretasikan, sehingga individu menyadari, mengerti tentang apa yang diindera itu.
Dalalam eksperimen ini, peneliti dapat menguji kemampuan kecepatan reaksi seseorang jika dihadapkan pada stimulus cahaya. Dengan alat ini, kemampuan kecepatan reaksi seseorang akan diukur dalam eksperimen Reaction Time dengan distraksi lampu berwarna merah dan hijau.
2. Cahaya Lampu berwarna :
Kadar (Intensitas) energi berbentuk gelombang elektromagnetik yang dapat dilihat dengan mata yang dihasilkan dari suatu alat yang dapat memproduksi cahaya berwarna. Dalam eksperimen ini, lampu yang digunakan sebagai alat distraksi adalah lampu bohlam berwarna merah, kuning, hijau, ungu, biru, jingga, dan nila 10 watt. Lampu bohlam merupakan salah satu lampu listrik. Dimana cahaya yang dihasilkan berupa cahaya yang berwarna merah, kuning, hijau, ungu, biru, jingga, dan nila. Distraksi penerangan lampu (baik ada atau tidaknya cahaya lampu) dalam percobaan ini diberikan pada saat individu memulai eksperimennya dalam penggunaan alat Reaction Time.

D. Control Variabel :
1. Testee adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Usia testee (OP) 17-25 tahun.
3. Jenis kelamin (OP) laki-laki dan perempuan.
4. OP dalam keadaan sehat, tidak mengalami gangguan penglihatan,
pendengaran, dan motorik
5. OP belum pernah melakukan eksperimen yang sama.
6. Treatment diberikan dalam ruangan individual (tertutup). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol kecepatan reaksi seseorang dalam melihat cahaya.
V. METODE PENELITIAN
a. Desain Penelitian
Two Groups Desain, yaitu desain penelitian yang didalamnya terdapat dua kelompok dimana subyek dipilih secara random dan ditempatkan dalam treatment condition melalui random assigment untuk menentukan siapa saja yang masuk kedalam kelompok pertama (kelompok kontrol), dan kelompok kedua (kelompok eksperiment).
b. Teknik pengambilan sampel :
1. Random assaigment yaitu dengan mengundi atau mengacak masing-masing subyek satu persatu untuk menentukan siapa yang akan masuk pada kelompok kontrol (kelompok 1) dan siapa yang akan masuk kelompok eksperimen (kelompok 2). Dalam eksperiment ini randomisasi dilakukan dengan pengundian nomor.
2. OP terdiri dari 10 orang yang terdiri dari dua kelompok :
a. Kelompok kontrol (5 orang) diminta menguji kecepatan reaksi dengan alat Reaction Time, dengan tidak diberi perlakuan.
b. Kelompok eksperimen (5 orang) diminta menguji kecepatan reaksi dengan alat Reaction Time dengan diberi perlakuan berupa 1 buah lampu warna merah, kuning, hijau, ungu, biru, jingga, dan nila yang diletakkan diatas alat. Dimana lampu berwarna ini digunakan sebagai distraksi.

VI. PROSEDUR PELAKSANAAN
a. Material : Reaction Time Tester, kertas pencatat data
b. Prosedur Pelaksanaan :
1) Persiapan Alat : Tekan tombol ON untuk mengaktifkan alat Reaction Time Tester, pastikan display timer menyala dan tombol berfungsi normal.
2) Subjek duduk di depan alat dengan stik tombol dihadapannya.
3) Tester duduk disamping sisi kanan alat yaitu dimana terlihat display timernya.
4) Instruksi : “dalam stik ini terdapat 2 tombol dengan warna yang sesuai dengan warna lampu yaitu merah dan kuning, tugas anda adalah memencet tombol stik tersebut sesuai dengan warna nyala lampu yang tampak menyala dengan secepat-cepatnya”
5) Percobaan dilakukan sebanyak sepuluh kali, dimulai dengan 5 percobaan pertama tanpa menggunakan perlakuan dan diteruskan dengan 5 percobaan terakhir menggunakan perlakuan.
c. Skoring
Banyaknya waktu atau time yang dibutuhkan pada setiap trial yang muncul pada display timer.
d. Analisis Hasil
1). Buatlah table yang dapat menunjukkan banyaknya time yang dibutuhkan pada setiap trial pada kelompok kontrol dan eksperimen.
2.) Buatlah analisis statistiknya.



VII. PENCATATAN HASIL
1. Tanpa Perlakuan

No      OP                              Contol Group
    Nama    Sex    Umur     1          2          3           4          5
1    Liza        P         19      0.46    0.25     0.24      0.26    0.30
2  Lukman  L         19      0.59    0.32     1.06      0.72     0.35
3  Sabiq       L         22      0.31    0.39     0.22      0.22     0.22
4   Uli           P         19      0.62    0.35     0.32      0.32     0.39
5 Depi          L         22      0.43    0.50    0.59      2.42      0.56


2. Dengan Perlakuan

No          OP                                Eksperimental Group
   Nama       Sex  Umur     1           2           3           4             5
1 Firdauz        L       22     1.97    0.65     0.54      0.59       1.70
2 Herwanto    L      23      0.43   3.34     0.13       0.58       3.47
3 Tri sulistio   L      18      1.50    0.43    0.59       0.29       0.29
4 Dicky            L     20      4.58    1.02     8.50     10.69      1.41
5 Erik              L      19      0.28     0.50   0.28      0.28       0.32

VIII. Pengolahan Hasil

Statistik    Contol Group (A)    Eksperimen Group (B)
N                           5                                    5
ΣX                     2.482                             8.872
ΣX²                  1.504                            31.6684
X                     0.4964                            1.7744
SD                    0.548                             2.5166
SD²M              0.274                              1.583

SDbM = √SD²MA + SD²MB
= √ 0.274² + 1.583²
= 1.6065

to =
= (0.4964-1.7744)/1.6065
= 0.7955
Db = NA+NB-2
= (5+5)-2
= 8

t1% 3.36 > to 0.7955
t5% 2.31 > to 0.7955

IX. KESIMPULAN PENELITIAN
Berdasarkan hasil analisis uji beda yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa cahaya lampu berwarna tidak berpengaruh pada kecepatan reaksi seseorang tt (5%=2.31) > to (0.7955) <>
X. PEMBAHASAN
Dari hasil pengolahan data di atas, diperoleh Mean untuk kelompok kontrol sebesar 0.4964 dan Mean untuk kelompok eksperimen sebesar 1.7744 dengan perbedaan sebesar 1.278. Setelah dilakukan analisis uji beda dengan metode t-test, penelitian eksperimen ini menunjukkan perbandingan antara nilai t empirik (to = 0.7955) dan t teoririk dengan db = 8, pada taraf 5% ditemukan nilai tt sebesar 2.31 dan pada taraf 1% ditemukan tt sebesar 3.36. Dari nilai-nilai tt tersebut, dapat dituliskan tt (5%=2.31) > to (0.7955) <> Hasil analisis uji beda menunjukkan bahwa cahaya lampu berwarna tidak berpengaruh pada kecepatan reaksi seseorang, sehingga hipotesis yang diajukan peneliti bahwa ada perbedaan antara kelompok control yang tidak mendapatkan perlakuan dengan kelompok eksperimen yang mendapatkan perlakuan berupa cahaya lampu berwarna terhadap kecepatan reaksi pada mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta tidak terbukti. Hal ini disebabkan karena data yang ditemukan berdasarkan analisis uji beda antara kelompok kontrol dan kelompok eksperimen tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Terdapat beberapa hal yang sekiranya menyebabkan hipotesis peniliti tidak terbukti. Diantaranya adalah lampu berwarna yang digunakan sebagai distraksi saat percobaan Reaction Time ini terlalu besar dan diletakkan diatas alat. Hal ini ternyata tidak mempengaruhi focus testee saat melihat cahaya merah atau hijau yang muncul pada alat percobaan.

Mengetahui Asisten Dosen

-----------------------------------------------
Hakiki Qurrotu Ayunin, S. Psi Yogyakarta, 8 Mei 2008
Eksperimenter

------------------------------------------------
(Kelompok 3)



DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Smith, E.E., Bemm, D.J., (1998). Pengantar Psikologi Edisi ke sebelas jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
Chaplin, J.P., Terjemahan Kartini Kartono. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Beiser, Arthur. Alih bahasa : DR. The Houw Liang. 1992. Konsep Fisika Modern,Edisi Keempat. Jakarta : Penerbit Erlangga
Irwanto. 2002. Psikologi Umum. Jakarta: Preenhalindo
Sobur, Alex, Drs. M.Si. 2003. Psikologi Umum. Bandung : Pustaka Setia
Suharnan. 2005. Psikologi Kognitif. Surabaya: Srikandi.
Walgito, Bimo. 1997. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset
Wilardjo, Like. 1997. Kamus Istilah Fisika Indonesia-Inggris. Jakarta : PT Grasindo
www. Wikipedia Indonesia. Com
Zemansky W. Mark and Sears. 1987. Fisika untuk Universitas 3, Optika dan Fisika Modern. Jakarta & New York : Ikatan Penerbit Indonesia




LAMPIRAN LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI
EKSPERIMEN

Control Group

1. Nama eksperimenter : Windri Wibowo Adi
Nomor Mahasiswa : 06710023
Nama Subyek : Liza
Jenis Kelamin :Perempuan
Umur : 19 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Duduk bersandar pada kursi, menggerak-gerakan kaki.
Interpretasi : Subjek santai

2. Nama eksperimenter : Rini Fitriani Permata Sari
Nomor Mahasiswa : 06710027
Nama Subyek : Lukman
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Subjek memencet tombol tidak kuat, senyum-senyum
Interpretasi : Tegang

3. Nama eksperimenter : Diah Putri Mahanani
Nomor Mahasiswa : 06710017
Nama Subyek : Sabiq
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 21 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen :4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Senyum-senyum, menggerak-gerakkan kaki.
Interpretasi : Subjek serius tapi santai

4. Nama eksperimenter : Gria Romadhaniati
Nomor Mahasiswa : 06710022
Nama Subyek : Uli
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 19 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Senyum-senyum, duduk bersandar di kursi
Interpretasi : Santai.

5. Nama eksperimenter : Oktafiana Fajri
Nomor Mahasiswa : 06710030
Nama Subyek : Depi
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 22 Tahun
Pendidikan :Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Posisi badan tegak, pandangan fokus ke alat, senyum-senyum
Interpretasi : Serius tapi santai

Eksperiment Group

6. Nama eksperimenter : Ferdiyansyah
Nomor Mahasiswa : 06710028
Nama Subyek : Firdaus
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 22 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Berkeringat, kaki digerak-gerakkan
Interpretasi : Gugup dan tegang

7. Nama eksperimenter : Wira Arsyi Habibi
Nomor Mahasiswa : 06710029
Nama Subyek : Herwanto
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 23 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Senyum-senyum sambil kaki digerak-gerakan
Interpretasi : Santai

8. Nama eksperimenter : Hany Ammaria
Nomor Mahasiswa : 06710016
Nama Subyek : Tri Sulistio
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Tatapan mata lurus ke alat.
Interpretasi : Tegang dan serius

9. Nama eksperimenter : Amul Husni Fadlan
Nomor Mahasiswa : 06710021
Nama Subyek : Dicky
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 20 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Berkeringat, mata lurus ke depan pada alat.
Interpretasi : Serius.

10. Nama eksperimenter : Purna Listianto
Nomor Mahasiswa : 06710026
Nama Subyek : Erick
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Reaction Time
Nomor Eksperimen : 4
Tanggal Eksperimen : 8 Mei 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Laboratorium Individual
Observasi Subyek : Senyum-senyum, duduk dengan badan bersandar di kursi
Interpretasi : Santai tapi serius.











Journal psikologi eksperimen



I. TEMA
“Pengaruh musik Ska terhadap kemampuan koordinasi visual motorik pada Eksperimen Steadiness Tester, pada Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta”

Disusun Oleh :
Hany Ammaria ( 06710016 )
Diah Putri M ( 06710017 )
Amul Husni F ( 06710021 )
Gria Romadhaniati ( 06710022 )
Windry Wibowo A ( 06710023 )
Purna Listianto ( 06710026 )
Rini Fitriani ( 06710027 )
Ferdiyansyah ( 06710028 )
Wira Arsyi H ( 06710029 )
Oktafiana Fajri ( 06710030 )

Jogjakarta, 2008
PRODI PSIKOLOGI
FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN HUMANIORA
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA
YOGYAKARTA

II.DASAR TEORI
A.KOORDINASI VISUAL MOTORIK
a.Pengertian visual
Sistem visual manusia terdiri dari mata, beberapa bagian di otak, dan jalur yang menghubungkan mereka. Visual menurut kamus lengkap psikologi J.P. Chaplin adalah menyinggung penglihatan atau daya lihat.
b.Pengertian motorik
Motorik adalah pengendalian gerakan jasmani melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf, dan otot yang terkoordinasi (Elizabeth B. Hurlock, 1978)
c.Koordinasi visual motorik
Koordinasi visual motorik merupakan gabungan antara pengendalian gerakan jasmaniah dengan aspek visual.
d. Hal-hal yang dapat mempengaruhi visual-motorik
Koordinasi visual motorik seseorang dipengaruhi oleh beberapa hal, antara lain konsentrasi terhadap suatu obyek. Hal ini juga sangat mempengaruhi ketenangan seseorang dalam melaksanakan tugas yang diberikan. Juga berpengaruh terhadap banyaknya waktu yang dibutuhkan dalam mengerjakan tugas tersebut. Koordinasi visual motorik ini dapat juga dipengaruhi oleh stimulus lain disekitarnya yang mungkin dapat mengacaukan konsentrasi seseorang. Sedangkan menurut ( Elizabeth B Harlock) ada beberapa hal yang dapat mempengaruhi visual motorik, di antaranya adalah :
lingkungan
fisik
mental
kemampuan mengendalikan tubuh
Seandainya tidak ada gangguan lingkungan atau fisik atau hambatan mental yang mengganggu perkembangan motorik, secara normal seseorang akan siap menyesuaikan diri dengan lingkungannya (Hurlock, 1978). Dan salah satu gangguan yang ada dalam lingkungan adalah musik.

B. Musik SKA
a. Pengertian musik
Musik adalah prilaku sosial yang kompleks dan universal. Setiap masyarakat memiliki apa yang disebut dengan musik (Blacking, 1995) dan setiap masyarakatnya adalah pemusik. Menurut Abler (1989), musik memiliki semua karakter penting dari sistem kimia, genetika dan bahasa manusia. Sedangkan menurut Sloboda (1998), secara tegas mengatakan bahwa perasaan manusia terikat dengan bentuk musik, karena terdapat konsistensi dalam respon musik yang secara relatif memberikan lingkungan yang sama.
Tempo sebuah musik merupakan salah satu karakteristik ekspresi emosi atau menjadi sebuah pengalaman misik bagi pendengaran seseorang ( Jansma & de Vries, 1995 ). Dapat di katakan bahwa karakteristik musik seperti modus,irama, dan tempo yang dirasakan pendengar dapat menjadi sebab untuk mengekspresikan emosi ( Gabrielson & Lindstrom, 2001 )
b. Pengertian musik ska
Musik ska adalah bentuk musik jamaika yang sudah ada sejak 1950an. Dengan memadukan unsur-unsur jazz, blues, dan mento. Bunyi musik ska dikenali melalui penempatan bunyi gitar yang ditekankan accented dan rima piano cantik. Perkataan “ska” berasal dari onomatopoeic dalam tradisi sastra atau juga rima musik. Musik ska merupakan bahasa universal yang berasal dari jiwa tanpa mengenal umur, status, gender, agama, dan ras, sehingga mendorong semua orang yang mendengar irama ini untuk bernyanyi dan berdansa bersama mengikuti beat.



III. HIPOTESIS
“Ada perbedaan kemampuan koordinasi visual motorik antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen yang menggunakan distraksi musik ska pada eksperimen steadiness tester”

IV. VARIABEL PENELITIAN
a.Independent Variabel : musik ska.
b.Dependent Variabel : kemapuan visual motorik.
c.Definisi Operasional :
1.kemampuan visual motorik :
Koordinasi visual motorik merupakan gabungan antara pengendalian gerakan jasmaniah dengan aspek visual. Gerakan motorik yang diamati kali ini adalah koordinasi antara gerakan tangan, dan penglihatan seseorang dalam eksperimen steadiness tester, dengan distraksi musik ska.
2.musik ska
Musik ska adalah musik yang merupakan perpaduan dari beberapa instrumen musik seperti gitar, bass, drum, melodi, serta menggunakan irama saxophone sebagai ciri khasnya. Dalam eksperimen ini musik ska digunakan sebagai stimulan, untuk mempengaruhi konsentrasi testee terhadap jalanya percobaan.
d.Control Variabel :
1.Testee adalah Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2.Usia testee (OP) 17-25 tahun.
3.Jenis kelamin (OP) laki-laki dan perempuan.
4.OP dalam keadaan sehat, tidak mengalami gangguan penglihatan, pendengaran, dan motorik
5.OP belum pernah melakukan eksperimen yang sama..
6.Penerangan dalam ruang eksperimen cukup dan sama untuk setiap OP.
7.Treatment diberikan dalam ruangan individual (tertutup). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol volume musik ska.

V. METODE PENELITIAN
a. Desain Penelitian :
Two Groups Desain, yaitu desain penelitian yang di dalamnya terdapat dua kelompok dimana subyek dipilih secara random dan ditempatkan dalam treatment condition melalui random assigment untuk menentukan siapa saja yang masuk kedalam kelompok pertama (kelompok kontrol), dan kelompok kedua (kelompok eksperiment).
b. Teknik pengambilan sampel :
1. Random assaigment yaitu dengan mengundi atau mengacak masing-masing subyek satu persatu untuk menentukan siapa yang akan masuk pada kelompok kontrol (kelompok 1) dan siapa yang akan masuk kelompok eksperimen (kelompok 2). Dalam eksperiment ini randomisasi dilakukan dengan pengundian nomor.
2. OP terdiri dari 10 orang yang terdiri dari dua kelompok :
a.Kelompok kontrol (5 orang) diminta menguji kemampuan visual motorik dengan alat Steadiness tester, dengan tidak diberi perlakuan.
b.Kelompok eksperimen (5 orang) diminta menguji kemampuan visual motorik dengan alat Steadiness tester dengan diberi perlakuan berupa alunan musik beraliran ska dengan kapasitas volume yang sama.

VI. PROSEDUR
A. Material (Alat-alat dan bahan eksperiment)
1.Satu buah alat steadiness tester.
2.Speaker aktif.
3.MP3 Player.
B. Prosedur pelaksanaan.
1.Persiapkan alat : tekan tombol ON untuk mengaktifkan alat Steadiness tester, pastikan Display timer menyala dan semua tombol berfungsi normal.
2.OP masuk dengan diiringi musik ska dengan volume yang terkontrol. Dengan tujuan agar tidak terjadi gangguan saat pengarahan.
3.Subjek duduk di depan alat dengan posisi yang simetris dan siap memegang tongkat penghubung.
4.Tester duduk berhadapan dengan alat Steadeness tester.
5.Instruksi : “Di sini terdapat tongkat dan lubang, tugas anda adalah memasukkan tongkat penghubung kedalam ring (lubang) yang terdapat dihadapan anda sampai menyentuh tombol sensor.”
6.Percobaan dilakukan 10 kali, dimulai dengan 5 percobaan pertama tanpa menggunakan perlakuan dan diteruskan dengan 5 percobaan terakhir dengan menggunakan perlakuan.
7.Saat treatmen hanya terdapat seorang tester yang dibantu seorang pencatat dan juga seorang observer untuk setiap testee. Hal ini bertujuan untuk memudahkan pengamatan pada testee.
C. Skoring
Banyaknya time and error pada setiap trial yang nampak pada display timer.
D. Analisis Hasil
Pada tahap ini dicari skoring dari masing-masing individu untuk kemudian diukur seberapa jauh perbedaan yang menyimpang dari standar stimulus. Serta membandingkan perbedaan yang menyimpang tersebut antara eksperimental group (yang diberikan perlakuan) dan kontrol group ( yang tidak diberikan perlakuan denagn menggunakan rumus Uji-t. (uji perbedaan antara dua kelompok))

VII. PENCATATAN HASIL

1.Tanpa Perlakuan

No             Objek Percobaan                                Control Group         
         Nama                Sex         Umur               Time           Error
1     Asri Fitri        Perempuan    18                   30,8              9
2       Erik                Laki-laki      18                   16,6               6
3       Heru               Laki-laki      18                   01,8              4
4     Sudarno           Laki-laki      20                   13,3             13
5 M. Abdul Haris   Laki-laki      18                   02,2              4


2.Dengan Perlakuan

No             Objek Percobaan                               Control Group
        Nama              Sex            Umur             Time            Error
1     Depi S.         Laki-laki         22                  15,3                0
2     Erick            Laki-laki        20                   04,0               7
3     Ririn           Perempuan     18                   03,1               4
4    Wildan         Laki-laki         22                   06,0               8
5     Kiki             Laki-laki         22                    07,1               3


VIII. PENGOLAHAN HASIL

Error

Statistik      Kelompok Kontrol         Kelompok Eksperimen
                              Error                                    Error
N                              5                                            5
∑X                          36                                          22
∑X2                       318                                        138
x                             7,2                                         4,4
SD                       3,4293                                  2,8705
SDm2                 2,9400                                 2,0599


SDbM = 2,2360
t = 7,2 - 4,4
2,2360
= 1,2522

db = 5 + 5 – 2 = 8

t 1% = 3,36 > t hitung
t 5% = 2,31 > t hitung




Time
Statistik   Kelompok Kontrol    Kelompok Eksperimen
                          Time                            Time
N                           5                                   5
∑X                       64,7                             35,5
∑X2                1409,17                         346,11
x                       12,94                               7,1
SD                  10,6953                         4,3373
SDm2            28,5974                         4,7030


SDbm = 5,7706

t = 1,0120

db = 5 + 5 – 2 = 8

t 1% = 3,36 > t hitung
t 5% = 2,31 > t hitung


IX. KESIMPULAN PENELITIAN
1.Tidak terdapat perbedaan hasil yang signifikan terhadap tingkat error pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen
2.Tidak terdapat perbedaan hasil yang signifikan terhadap waktu yang dibutuhkan pada kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen

X. PEMBAHASAN
Hasil penelitian dengan menggunakan alat stadiness tester membuktikan musik ska tidak berpengaruh terhadap tingkat error dan waktu yang dibutuhkan antara kelompok kontrol dengan kelompok eksperimen. Musik ska ini dikenakan pada kelompok eksperimen karena ingin membuktikan apakah musik ska dapat menyebabkan tremor sehingga berpengaruh kepada kemampuan koordinasi visual motorik. Gemetar yang dialami kelompok eksperimen ini diharapakan terjadi, karena itu menunjukan bahwa musik ska dapat mempengaruhi koordinasi visual motorik. Koordinasi visual motorik adalah gabungan antara pengendalian gerakan jasmaniah dengan aspek visual atau kemampuan individu untuk bereaksi terhadap stimulus.
Tremor merupakan suatu getaran yang muncul atas reaksi terhadap situasi-situasi yang ada. Situasi-situasi yang dapat memunculkan tremor diantaranya adalah ketika individu dihadapkan pada situasi yang baru baginya, situasi yang mengancam fisiknya, yang mengancam harga dirinya, ataupun ketika individu ditekan untuk melakukan sesuatu di luar kemampuannya. Yang dimaksud tremor adalah gerakan-gerakan otot tanpa terkendali dan berlangsung secara ritmis. Atau bisa juga diartikan sebagai geletar yang tidak dapat dikendalikan dari otot-otot, biasanya terbatas pada satu sistem otot kecil tertentu atau mengenai daerah-daerah khusus (Kartini Kartono & Dali Gulo, 2003). Sedangkan menurut J.P. Chaplin terjemah Kartini Kartono (2005) tremor atau getaran merupakan suatu guncangan atau geletarnya tungkai dan lengan atau seluruh tubuh. Tremor ini terjadi tidak hanya pada kelompok yang diberi perlakuan dengan musik ska, namun terjadi juga pada kelompok kontrol. Ini terjadi bisa karena disebabkan oleh beberapa hal, antara lain ;
1.Intensitas mendengarkan musik ska setelah melakukan percobaan kurang, sehingga tidak mempengaruhi kemampuan koordinasi visual motorik pada kelompok eksperimen.
2.Minat pada musik ska. Artinya, bisa jadi testee yang memang minat pada musik ska, dengan adanya musik ska tidak mempengaruhi koordinasi visual motorik.
3.Ruangan, ruangan yang digunakan untuk percobaan kebetulan tidak dilakukan di ruang individual, namun dilakukan di ruang kuliah yang luas, sehingga ruangan inipun mempengaruhi konsentrasi testee.
4.Cahaya yang terlalu terang bagi kelompok tanpa perlakuan.
5.Hubungan emosional antara tester dengan testee yang dapat juga mempengaruhi pelaksanaan percobaan.
6.Testee yang tegang karena belum tahu jenis atau bentuk tes seperti apa yang akan dilakukannya dapat pula menyebabkan tremor.
Ciri fisik dari beberapa subjek yang mengaku mengalami tremor/ gemetar ketika melakukan test dengan alat Steadiness Tester – Hole Type antara lain; beberapa mengaku gugup, mereka gemetaran pada tangan atau anggota badan yang lain, berkeringat dan jantung berdebar keras. Tremor tidak terbukti hanya dialami kelompok eksperimen saja yang diberi distraksi dengan musik ska, namun tremor juga dialami oleh kelompok kontol ketika mengerjakan tes Steadiness Tester – Hole Type.
Munculnya tremor ini menyebabkan berkurangnya koordinasi visual motorik. Jika individu dapat menguasai koordinasi visual motoriknya itu berarti dia mampu melakukan tes dengan Steadiness Tester Hole Type dengan tremor yang sedikit tapi sebaliknya, jika individu tidak mampu menguasai koordinasi visual motorik dengan baik maka ia akan mengalami banyak tremor dan ketika memasukan tongkat dengan melewati lubang ia akan lebih banyak menyentuh tepi lubang kawat dan mengakibatkan skor errornya meningkat.

XI. KESAN-KESAN SELAMA EKSPERIMEN
Pada eksperimen pertama ini, dengan alat Steadiness Tester, banyak kesan-kesan yang unik dan mengesankan. Mulai dari testee yang gugup dalam memberi intruksi kepada OP dikarenakan ini merupakan praktikum pertama bagi testee. Selain itu, karena ini pengalaman pertama kali bagi para testee, maka dalam persiapannyapun sedikit kurang maksimal. Dari OP sendiri, ada sebagian OP yang tegang karena ini merupakan pertama kalinya bagi OP melakukan praktikum. Karena tegang tersebut terjadi tremor dari para OP.




Mengetahui
Asisten Dosen

-----------------------------------------------
Hakiki Qurrotu Ayunin, S. Psi
Yogyakarta, Maret 2008
Eksperimenter ---------------------------------
(Kelompok 3)






DAFTAR PUSTAKA

Atkinson, R.L., Atkinson, R.C., Smith, E.E., Bem, D.J. 1998. Pengantar Psikologi Edisi Kesebelas Jilid 1. Jakarta: Penerbit Erlangga
Chaplin, J.P., Terjemahan Kartini Kartono. 2005. Kamus Lengkap Psikologi. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada
Djohan. 2005. Psikologi Musik. Yogyakarta: Buku Baik
Kartono, Kartini & Gulo, Dali. 2000. Kamus Psikologi. Bandung: Pionir Jaya
Harlock, Elizabeth B.


LAMPIRAN LAPORAN PRAKTIKUM PSIKOLOGI
EKSPERIMEN
Control Group
1. Nama eksperimenter : Hany Ammaria
Nomor Mahasiswa : 06710016
Nama Subyek : Asri Fitri
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Duduk tegak, pandangan ke depan, dan jari-jari bergetar
Interpretasi : Gugup

2. Nama eksperimenter : Wira Arsyi Habibi
Nomor Mahasiswa : 06710029
Nama Subyek : Erik
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Duduk tegak, pandangan lurus ke alat, senyum-senyum
serta tangan gemetar
Interpretasi : Gugup dan tegang.
3. Nama eksperimenter : Ferdiyansyah
Nomor Mahasiswa : 06710028
Nama Subyek : Heru Maulidiyanto
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Stadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Tatapan mata lurus ke depan, duduk tegak, fokus pada alat
Interpretasi : Serius

4. Nama eksperimenter : Gria Romadhaniati
Nomor Mahasiswa : 06710022
Nama Subyek : Sudarno
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 20 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Pandangan lurus ke depan, senyum-senyum
Interpretasi : Subjek santai, tidak tegang



5. Nama eksperimenter : Purna Listianto
Nomor Mahasiswa : 06710026
Nama Subyek : M. Abdul Haris
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Stadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Tatapan mata ke depan, tangan gemetar
Interpretasi : Subjek gugup dan tegang

Eksperiment Group

6. Nama Eksperimenter : Diah Putri Mahanani
Nomor Mahasiswa : 06710017
Nama Subyek : Depi Supidin
Jenis Kelamin : Laki-Laki
Umur : 22 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Duduk tegak, pandangan ke depan, senyum-senyum
Interpretasi : Subjek tenang, santai dan tidak gugup.


7. Nama eksperimenter : Oktafiana Fajri
Nomor Mahasiswa : 06710030
Nama Subyek : Erick
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 19 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Duduk tegak, senyum-senyum
Interpretasi : Subjek serius tapi santai.

8. Nama eksperimenter : Rini Fitriani Permata Sari
Nomor Mahasiswa : 06710027
Nama Subyek : Ririn
Jenis Kelamin : Perempuan
Umur : 18 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Tangan gemetar dan senyum-senyum.
Interpretasi : Subjek tegang




9. Nama eksperimenter : Amul Husni Fadlan
Nomor Mahasiswa : 06710021
Nama Subyek : Wildan
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur : 22 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steasdiness Tester
Nomor Eksperimen :1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Posisi badan tegak, pandangan lurus ke alat.
Interpretasi : Serius tapi santai.

10. Nama eksperimenter : Windri Wibowo Adi
Nomor Mahasiswa : 06710023
Nama Subyek : Kiki
Jenis Kelamin : Laki-laki
Umur :22 Tahun
Pendidikan : Mahasiswa
Nama Eksperimen : Steadiness Tester
Nomor Eksperimen : 1
Tanggal Eksperimen : 13 Maret 2008
Waktu Eksperimen : 09.30 – 11.10 WIB
Tempat Eksperimen : Ruang Kelas Eksperimen
Observasi Subyek : Duduk tegak, pandangan lurus ke depan pada alat,
senyum-senyum.
Interpretasi : Subjek santai, tidak tegang.